“Menjadi inspirasi bagi siapa pun, bahwa keterbatasan fisik tak akan menghalangi seseorang untuk mencapai kesempurnaan hidup.”
— Eko Ramaditya Adikara Tunanetra, komposer musik internasional, dan penulis buku Blind Power
Helen Keller, seorang wanita di masa antah berantah yang menjadi salah satu wanita yang aku kagumi setelah ibuku dan beberapa orang lainnya. Aku mengenalnya dari sebuah buku cerita bergambar di perpustakaan sekolah SMPku, SMP swasta PT Pupuk Iskandar Muda. Aku tak terlalu ingat, saat itu aku sedang duduk di kelas 1 atau 2 SMP, yang menjadi pokok permasalahannya adalah “mengapa aku mau memasuki perpustakaan sekolah, padahal ruangan itu adalah ruangan yang aku “hindari”. Bagaimana tidak, dipikiranku saat itu, perpustakaan adalah ruangan sunyi yang dipenuhi buku-buku pelajaran sekolah dimana anak-anak rajin, pintar, dan ngga gaul berkumpul (aku termasuk pintar juga seh tp gaul, haiyah…
). Teman-teman genk ku juga ngga pernah mau kalo diajak ke perpustakaan, mendingan ngemper di depan kelas sambil mencicipi makanan ringan khas kantin sekolah dan bercanda ria sesuka hati. Akan tetapi hari itu menjadi hari yang berbeda bagiku, dengan segenap daya upaya akupun melangkahkan kaki memasuki ruangan itu.
